
Di Aceh dan Sumatra, masjid berdiri, namun banyak yang kehilangan isinya. Sajadah yang basah oleh lumpur, mushaf yang rusak, mukena dan sarung yang hanyut bersama air. Di tengah duka dan keterbatasan, ada satu hal yang tetap ingin mereka jaga: sholat. Ibadah yang menjadi tempat bersandar ketika rumah runtuh dan hari terasa gelap.

Bagi mereka, alat sholat bukan sekadar perlengkapan. Ia adalah harapan yang digelar, doa yang kembali ditegakkan, dan penguat hati saat semuanya terasa hilang. Ketika seorang ayah bisa kembali menggelar sajadah untuk keluarganya, ketika seorang ibu bisa menutup auratnya untuk berdoa dengan tenang, di situlah luka perlahan menemukan jeda.
Mari kita kirimkan lebih dari sekadar bantuan. Kirimkan kesempatan untuk kembali bersujud dengan layak dan penuh khusyuk. Satu sajadah, satu mukena, satu mushaf dari kita, bisa menjadi jalan bagi ribuan doa dari Aceh dan Sumatra. Saat mereka bersujud, semoga kebaikanmu ikut terangkat bersama doa-doa yang tak pernah putus.